Mulailah dari diri sendiri

Dalam bulan Ramadhan ini marilah kita bercermin sejenak, apakah yang kita lakukan sekarang sudah lebih baik dari yang kita lakukan sebelumnya, atau masih sama dan bahkan malah lebih jelek dari sebelumnya.

Kondisi politik, sosial dan budaya bangsa kita saat ini masih memprihatinkan. Misalnya: birokrasi masih berbelit dan korup, ditambah lagi vonis pengadilan masih belum dapat menimbulkan efek jera terhadap para koruptor, belum semua anggota DPR memikirkan nasib rakyat kecil, dan masih banyak lagi persoalan bangsa ini yang jika dibahas tidak akan habis habis. Negara masih membutuhkan pribadi-pribadi yang bermoral dan berakhlak mulia serta istiqomah, tidak hanya sekedar pandai melakukan kritik tetapi juga harus bisa menunjukkan jiwa keteladanan dan sekaligus bisa diterapkan didalam kehidupan masyarakat. Pemikiran yang bersifat nasional masih diperlukan, namun implementasi dalam keseharian lebih perlu untuk terus ditingkatkan.

Saya masih teringat kotbah dari tayangan televisi yang disampaikan oleh K. H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana tetapi cepat dipahami oleh masyarakat luas, beliau menyampaikan “mulailah dari diri sendiri…, mulailah dari yang kecil… dan mulailah dari sekarang juga…”. Mudah-mudahan dengan mengaplikasikan beberapa contoh sederhana dibawah ini, kita termasuk yang disayang Allah SWT. Amiiin.

1. Menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Pepatah mengatakan bahwa kita wajib menuntut ilmu walau sampai negeri China. Ini berarti bahwa kita harus selalu belajar selama kita masih hidup didunia dan mengamalkannya di dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan memahami Al Qur’an, baik tulisan maupun isinya, adalah suatu kegiatan yang sangat positif dan dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. Mulailah dari yang sangat sederhana, yaitu dengan belajar membaca huruf Arab (belajar Iqro’), kemudian meningkat membaca Al Qur’an beserta terjemahannya. Dalam bidang lain, menuntut ilmu harus dilakukan sampai ke jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya. Setelah ilmu tersebut dikuasai, kita wajib mengamalkan ilmu tersebut, misalnya melalui diskusi kecil dalam kelompok organisasi, melalui tulisan, menjadi guru/dosen, dll.

2. Tidak sombong.

Dari pengalaman saya di tanah suci Mekah, ternyata dengan melihat begitu banyak manusia yang berkumpul disekitar masjid Masjidil Haram, saya sebagai seorang manusia merasa tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki Allah SWT. Pangkat, jabatan, gelar, kekayaan dsb. bukanlah hal yang dapat disombongkan. Oleh karena itu, mulailah berperilaku rendah hati, menghargai orang lain dan tidak membeda-bedakan dalam bergaul.

3. Jujur.

Saat ini banyak sekali tindak korupsi dimana pelakunya tidak menyadari bahwa hal tersebut bersifat korup atau menipu. Misalnya, pada saat menyekolahkan anak, orang tua menginginkan anaknya masuk ke sekolah favorit. Karena takut tidak diterima, maka si orang tua membayar sejumlah uang kepada guru, agar guru yang bersangkutan menaikkan nilai anaknya. Beberapa hal yang membuat orang tua tersebut tidak menyadari bahwa tindakannya adalah tindakan korup diantaranya: banyak orang tua lain yang melakukan hal yang sama; menganggap bahwa hal ini perlu dilakukan untuk menjamin masa depan anaknya; dll. Contoh lain adalah kontraktor yang ingin memenangkan sebuah tender pekerjaan dengan menempuh segala cara, misalnya dengan memanipulasi data pada profil perusahaannya, menyuap panitia proyek, dll. Oleh karena itu, kita perlu untuk berhati-hati dalam berperilaku. Hindarilah suap-menyuap dalam bentuk apapun dan mulailah mendidik anak dengan sebuah kejujuran, walaupun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Sesungguhnya Allah maha mengetahui.

4. Bersedekah.

Bersedekah sedikit tetapi ikhlas akan lebih baik dari pada bersedekah dalam jumlah banyak tetapi kurang ikhlas, apalagi ditambah dengan harapan diketahui orang dan mendapat imbalan dari yang diberi sedekah. Ladang untuk bersedekah di negara kita masih sangat banyak, contohnya memberi makan pada orang miskin (pengangkut sampah, tukang becak, dsb.); menyantuni anak yatim; memberikan beasiswa pendidikan atau menjadi orang tua asuh bagi anak miskin yang pandai; dsb. Untuk itu, jangan menyia-nyiakan sisa waktu hidup ini untuk tidak bersedekah.

5. Doa dan syukur.

Biasakanlah berdo’a setelah menjalankan sholat 5 waktu dan bersyukurlah terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan. Ini adalah pekerjaan yang sangat nikmat dan sekaligus sangat mudah dilakukan. Nikmat hidup akan terasa, karena kita menyadari bahwa semua terjadi karena Allah. Saat sedang bergembira ataupun bersedih, kita akan bersikap biasa saja. Itulah sebabnya kita wajib berikhtiar yang dibarengi dengan berdo’a. Jika tetap gagal setelah berikhtiar, maka semua adalah karena kehendak Allah.

6. Senyum.

Hiasilah pergaulan sehari-hari dengan keluarga, tetangga dan masyarakat dengan sapaan yang halus dan senyuman yang ikhlas. Hal ini akan memberikan kebahagiaan tersendiri untuk kita. Apabila kita menyapa istri atau anak dengan senyum, maka reaksi mereka akan jauh lebih positif dibandingkan jika kita menyapa mereka dengan kasar.

7. Berpikir positif.

Mulailah dengan menghilangkan sedikit demi sedikit prasangka buruk terhadap orang lain. Apabila suami pulang ke rumah agak terlambat, jangan terburu-buru berpikiran jelek. Mulailah berpikir bahwa mungkin suami ada rapat mendadak. Setelah suami sampai di rumah, tanyakan dengan baik-baik. Apabila ada orang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi padahal kondisi jalan sangat padat, mulailah dengan memikirkan kemungkinan yang baik: mungkin pengemudi tersebut sedang mengantarkan orang yang sakit parah untuk menuju ke rumah sakit.

8. Peduli lingkungan.

Kebersihan dan keindahan adalah sebagian dari iman. Banyak sekali perbuatan yang tidak sesuai dengan pepatah ini di masyarakat, misalnya membuang sampah dan meludah di sembarang tempat, dsb. Bahkan tak jarang orang yang cukup terpandang sekali pun, saat sedang mengendarai mobil mewah, membuang sampah keluar dari jendela sehingga mengotori jalan. Perbuatan tersebut sangat berlawanan dengan rasa keimanan kita. Untuk itu, mulailah dengan mendidik keluarga kita agar membuang sampah di tempat sampah, tidak membuang sampah di selokan, parit atau sungai.

Masih banyak lagi hal-hal sederhana yang belum sempat tertulis, misalnya : tidak bergosip (membicarakan kejelekan orang lain), tidak memandang rendah orang lain, dsb. Namun, semoga beberapa hal yang telah diuraikan di atas dapat mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari (termasuk penulis), sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi sesama. Amin ya rabbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: